Oleh: M Arif Romadoni | 22/12/2011

MEMILIH JURUSAN

ARGUMENTASI: DILEMA JURUSAN IPA DAN IPS

Umumnya SMA di Indonesia mengadakan program pemilihan jurusan bagi kelas X, untuk menganalisa jurusan yang tepat bagi siswanya di kelas XI nanti. Pemilihan jurusan biasanya didahului dengan tes minat dan tes psikologi. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai potensi yang dimiliki siswa, agar dapat di maksimalkan oleh siswa yang bersangkutan. Biasanya ada tiga pilihan dalam pemilihan minat jurusan, yaitu IPA, IPS, dan Bahasa.

Untuk jurusan bahasa, mulai jarang ditemui di zaman sekarang, sehingga hanya terdapat dua jurusan yang umum di Indonesia, yaitu IPA dan IPS. Jurusan IPA biasanya diperuntukkan untuk siswa yang memiliki kecenderungan terampil dalam ilmu-ilmu pasti. Sedangkan jurusan IPS diperuntukkan untuk siswa yang memiliki kecenderungan dalam ilmu-ilmu sosial atau kemasyarakatan. Tujuan awalnya adalah memilih siswa-siswa yang berbakat di bidangnya, sehingga siswa dapat lebih terarah dalam belajar dan dalam pemilihan jurusan sewaktu kuliah, sehingga menghasilkan generasi yang kompeten di bidangnya.

Lalu seiring waktu berjalan, masyarakat dan pelajar mulai mengkotak-kotakkan jurusan-jurusan tersebut. Masyarakat dan pelajar mulai menganalogikan kalau jurusan IPA merupakan jurusan yang memiliki peluang untuk bekerja tinggi sedangkan IPS tidak. Lalu ada anggapan kalau jurusan IPS cuma jurusan untuk “buangan” siswa-siswa yang tidak diterima di jurusan IPA. Dengan munculnya sugesti seperti itu, masyarakat awam mulai terpengaruh, sehingga jurusan IPS semakin dihindari dan dianggap tidak prospektif. Sedangkan jurusan IPA dijadikan suatu terget “wajib” bagi siswa SMA.

Sebuah survey yang telah diadakan SMA N 1 Yogyakarta mengindikasikan kecenderungan siswa-siswanya lebih memilih jurusan IPA dengan alasan bahwa jurusan IPA merupakan jurusan yang dianggap prospektif dalam bidang pemilihan jurusan di perguruan tinggi dan dalam bidang kerja. Kemudian jurusan IPS jarang dipilih siswa karena dirasa kurang prospektif di masa mendatang. Dengan adanya hasil tersebut, dapat kita tarik pokok permasalahannya yaitu jurusan IPS dirasa kurang prospektif bagi masa mendatang.

Sebenarnya, masalah pemilihan jurusan yang mempertimbangkan keprospektifan masing-masing jurusan dirasa kurang adil dalam penerapan pendidikan di Indonesia. Prospektif atau tidaknya suatu jurusan, bukan ditentukan oleh baik buruknya jurusan yang dipilih, namun dari  niat, minat, dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuannya secara optimum dengan adanya jurusan-jurusan tersebut, seandainya siswa dapat mengoptimalkan kemampuannya sesuai jurusan yang diminatinya, kemungkinan siswa tersebut juga akan memiliki masa depan yang cerah. Jadi, keprospektifan suatu jurusan bukan didasarkan dari anggapan baik buruknya suatu jurusan, namun didasarkan dari niat, minat, dan kemampuan siswa dalam suatu jurusan.

Kemudian ada siswa yang mengungkapkan bahwa ada anggapan baik dan buruknya suatu jurusan berdasarkan dari banyaknya siswa-siswa yang memiliki nilai buruk untuk beberapa mata pelajaran IPA yang masuk jurusan IPS. Sehingga siswa beranggapan bahwa siswa yang masuk IPS karena nilai IPA yang dimiliki tidak memenuhi ketentuan untuk memilih jurusan IPA. Itu memang benar, namun anggapan ini berimbas kepada psikologis siswa yang masuk jurusan IPS baik karena minat atau karena terpaksa. Kondisi ini tentu tidak baik, karena akan menyebabkan rasa rendah diri bagi siswa jurusan IPS, jika rasa rendah diri ini terus berlanjut, akan menyebabkan proses belajar tidak optimum.

Seharusnya sesama siswa tidak boleh saling menjatuhkan mental seperti itu secara terang-terangan. Sudah selayaknya sesama siswa mulai belajar untuk tidak membeda-bedakan jurusan yang dipilih temannya. Pada dasarnya semua jurusan itu baik, namun bagaimana kita menyelaraskan dalam kehidupan bermasyarakat itulah yang terpenting. Jadi bukan karena suatu jurusan diisi oleh orang berkemampuan “kurang”.

Jurusan IPS juga sering dicap oleh masyarakat sebagai jurusan “buangan”, karena siswa yang nilainya kurang memenuhi untuk masuk jurusan IPA kemudian diarahkan atau disarankan masuk jurusan IPS. Itu memang benar, daripada sulit untuk beradaptasi di jurusan IPA, bukankah lebih baik memilih alternatif lain yaitu jurusan IPS? Anggapan itu ada benarnya juga. Yang menjadi masalah adalah label “buangan” oleh masyarakat. Hal tersebut sangat mempengaruhi pola pikir siswa.

Menurut teori sosiologi dari Edwin M. Lemert, yang sering disebut labelling theory, seorang individu dapat menjadi penyimpang karena adanya proses labelling (pemberian julukan, cap, etiket atau merek) yang diberikan masyarakat kepada individu tersebut. Sebagai contoh, seorang siswa yang masuk jurusan IPS diberi label atau julukan dari masyarakat sebagai siswa “buangan”, hal ini menyebabkan kecenderungan dalam diri siswa tersebut untuk benar-benar menjadi siswa “buangan”, karena julukan dan tekanan sosial yang diberikan masyarakat kepada siswa tersebut. Tentunya karena ini merupakan teori sosial, tidak dapat seratus persen pasti. Artinya, belum tentu semua orang mengalami hal tersebut.

Seharusnya ada semacam sosialisasi dari badan pendidikan yang berwenang kepada masyarakat, khususnya orang tua murid, untuk menghentikan labelling atau julukan ini, baik secara psikologis maupun secara sosiologis. Penghentian secara psikologis dapat ditempuh dengan cara penanaman sugesti dalam diri sendiri untuk merasakan seandainya kita diposisi yang sama, bagaimanakah perasaan kita, sehingga akan ada seperti rasa bersalah dan berdosa yang ditimbulkan oleh sugesti ini. itu juga merupakan salah satu bentuk pengendalian sosial. Yang kedua yaitu penghentian secara sosiologis dimana diperlukan badan resmi yang bertanggungjawab dalam dunia pendidikan di Indonesia, untuk memberikan sosialisasi yang terus menerus disampaikan kepada masyarakat luas, agar stigma masyarkat mengenai julukan buruk terhadap suatu jurusan dapat diredam.

Dengan adanya sosialisasi terus-menerus, akan mengakibatkan masyarakat tersugesti secara luas untuk peduli dan turut bersimpati. Jika dilihat, kedua tehnik ini hampir sama, hanya subjeknya saja yang berbeda. Dengan adanya pengendalian oleh pihak yang berwenang, diharapkan masyarakat mulai meninggalkan julukan buruk terhadap suatu jurusan terutama IPS.

Hasil survey juga menunjukkan adanya indikasi orangtua siswa yang kadang “mendikte” anaknya untuk masuk jurusan tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung. Proses penekanan oleh orangtua kepada anaknya untuk masuk jurusan tertentu dirasa sangat mengganggu sisi psikologis anak tersebut. Anak tersebut dapat tertekan bahkan depresi. Sebagai ilustrasi, ada seorang ayah yang menginginkan anaknya menjadi seorang dokter, sehingga harus masuk jurusan IPA, padahal si anak menginginkan dirinya menjadi seorang pengacara yang notabenenya lebih mengarah ke sosial. Karena tidak terjadi kesepahaman, hubungan anak dan orangtua ini renggang. Untuk meredam permasalahan, akhirnya si anak mengalah, dia masuk jurusan IPA dan menjalani proses pendidikannya. Beberapa bulan sejak pendidikan di jurusan IPA, anak tersebut merasa dia tidak berprestasi, nilai ulangannya selalu buruk dan ilmu yang didapat kurang dikuasainya, sehingga anak tersebut menjadi frustasi dan depresi.

Hal inilah yang menjadi perhatian, proses paksaan akan mempengaruhi psikologis yang dipaksa, karena akan menimbulkan efek kontra di dalam perasaanya. Sebagai orangtua yang baik, seharusnya melakukan jalinan komunikasi yang baik sewaktu anaknya akan memilih jurusan untuk kelas XI nanti. Jalinan komunikasi tersebut dapat berupa arahan yang bersifat membangun dan menimbulkan daya tarik terhadap suatu bidang, misalnya ada orangtua yang menginginkan anaknya menjadi insinyur, sehingga akan lebih tepat jika masuk IPA, namun si anak menginginkan dirinya menjadi dosen sosiologi yang akan lebih tepat jika masuk jurusan IPS.

Di saat terjadi persilangan pendapat ini, seharusnya ada suatu jalinan komunikasi yang baik, sehingga antara pendapat orangtua dan anak dapat dipertemukan dalam suatu kesepakatan. Pemahaman orangtua terhadap kemauan anak menjadi faktor penting dalam jalinan komunikasi tersebut. Sehingga anak tidak akan tertekan karena paksaaan orangtua untuk masuk suatu jurusan.

Pendidikan di Indonesia memang masih pragmatis, di satu sisi kita harus menjalankan sistem yang sudah ada, di sisi lain, sistem tersebut ternyata menimbulkan kontroversi di dalam dunia pendidikan itu sendiri, salah satunya masalah penjurusan IPA dan IPS. Tujuan awal yang ingin menjadikan pendidikan peserta didik lebih terarah malah menyebabkan pengkotak-kotakan jurusan menjadi jurusan yang baik dan jurusan yang buruk. Sudah selayaknya badan resmi yang mengatur pendidikan (dalam hal ini Kemendiknas) untuk melakukan resosialisasi atau penyosialisasian ulang mengenai jurusan-jurusan tersebut, dimana perlu disertai dengan desosialisasi terlebih dahulu.

Desosialisasi yaitu proses pencabutan dari apa yang telah dimiliki oleh individu seperti nilai dan norma. Nilai dalam masalah ini adalah pengkotak-kotakan jurusan, sedangkan normanya merupakan sesuatu yang tidak tertulis berupa anggapan bahwa jurusan IPA lebih diunggulkan daripada jurusan IPS  dalam beberapa aspek. Tujuan desosialisasi yaitu “mencabut” nilai dan norma lama seperti yang telah disebutkan diatas dengan nilai dan norma yang baru. Nilai baru dapat berupa tidak adanya pengkotak-kotakan jurusan. Sedangkan norma baru dapat berupa anggapan bahwa tidak ada jurusan yang lebih baik, semuanya baik, tergantung dari niat, kemampuan, dan usaha dari pesrta didik untuk mengikuti jurusan yang dikehendakinya.

Memang perlu adanya usaha dari semua pihak di bidang pendidikan dan masyarakat terutama orang tua siswa untuk mendukung proses perubahan ini. namun seiring berjalannya waktu, saya yakin proses perubahan ini dapat terwujud jika pihak-pihak yang terlibat tetap konsisten terhadap penanganan masalah ini. masalah penjurusan IPA dan IPS hanya akan menjadi dilema yang terus menghantui pelajar, sehingga dapat memengaruhi perkembangan psikologis siswa. Sebagai kesimpulan, kesuksesan pendidikan menengah atas di Indonesia bukan ditinjau dari apakah siswa memilih jurusan IPA dan IPS, namun ditinjau dari niat, minat, dan kemampuan dari siswa tersebut untuk belajar, sehingga bukan hanya siswa yang dari jurusan IPA saja yang akan sukses, namun dari jurusan lain pun dapat berpotensi sukses, apalagi jika masyarakat sudah mengakui kesuksesannya, itu dapat menjadi bukti bahwa sebenarnya semua jurusan memiliki potensi sukses di bidang yang dikuasai.

Sebagai penutup, marilah kita berjuang dalam dunia pendidikan ini untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia, karena pendidikan merupakan kunci untuk membangun bangsa dan negara ini melalui generasi penerus bangsa. Janganlah memporak-porandakan pendidikan dengan mengkotak-kotakkan jurusan. Pada dasarnya semua jurusan itu baik, tinggal bagaimana kita menjalaninya dan menerapkannya dalam masyarakat. Karena tujuan kita belajar adalah menerapkan ilmu dan kemampuan kita di bidangnya untuk masyarakat.

By: _V!ALVSCLMN!V_ http://justice-for-education.blogspot.com

Artikel ini diambil dari: http://justice-for-education.blogspot.com


Responses

  1. mantap eyyyyyyyyyyyy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: