Oleh: M Arif Romadoni | 05/02/2012

Harbuknas Mendorong Minat Baca

Tahukah Anda, setiap tanggal 17 Mei adalah Hari Buku Nasional? Jangankan Anda, saya sendiripun baru tahu ketika tim Warta Minggu memberikan kesempatan berharga kepada saya untuk membuat artikel bertema Hari Buku Nasional pada edisi ini. Maka saya makin penasaran dan tertantang untuk tahu lebih banyak lagi mengenai hari yang boleh dibilang spesial ini.

Peresmian Harbuknas ini memang baru dilakukan pada tahun 2002 yang lalu oleh Mendiknas, Ahmad Malik Fajar. Namun, bulan Mei sebagai Bulan Buku Nasional, sesungguhnya telah lama dicanangkan, yakni sejak tahun 1995 oleh mantan Presiden Soeharto. Tapi begitulah, karena mungkin tidak dianggap sebagai masalah penting, tidak heran jika ekspos mengenainya nyaris tidak terdengar, termasuk dari kalangan media massa. Bisa juga disebabkan faktor lainnya, diantaranya ialah karena buku dan aktivitas yang terkait dengannya, seperti membaca dan menulis, tidak begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Pamor momentumnya pun kalah jika dibandingkan dengan momentum lainnya, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) atau Hari Kebangkitan Nasional (21 Mei).

Seolah telah menjadi permasalahan klasik setiap kali kita membicarakan masalah perbukuan di negeri ini. Maka wacananya akan senantiasa berputar pada persoalan tuduhan rendahnya minat dan budaya baca bangsa ini, kemudian harga buku yang dinilai mahal, serta belum adanya kesungguhan perhatian kita, pemerintah, masyarakat, lembaga-lembaga, dan lain-lain pada perkembangan perbukuan. Padahal kalau ditanya, semua orang pastilah akan sepakat bahwasanya buku merupakan salah satu sarana utama dalam proses pencerdasan kehidupan bangsa serta gudang ilmu yang tidak pernah lekang dimakan jaman.

Bisa dikatakan dunia perbukuan di Indonesia saat ini ternyata sedang masuk dalam proses pilihan yang dilematis. Di satu sisi buku berfungsi sebagai alat pencerdas kehidupan bangsa, sebagai sumber ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban, namun disisi lain harga buku terasa mahal, daya beli masyarakat rendah, pembajak buku pun merajalela, belum lagi ditambah dengan adanya perkembangan teknologi seperti iPad, e-book yang semakin menyudutkan kehadiran buku.

Harus diakui, masyarakat kita lebih menyenangi budaya lisan (ngobrol, gosip) dan visual (menonton TV) ketimbang membaca. Berbeda jauh dengan Jepang yang dijuluki sebagai bangsa yang gemar baca buku. Bahkan ada anekdot, “kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.” Artinya, bagi orang Jepang, sesantai apa pun kegiatan yang mereka tengah tekuni, membaca tetap menjadi suatu kebutuhan layaknya kebutuhan makan dan minum sehari-hari. Namun, sebaliknya, bagi orang Indonesia, sesantai apa pun kegiatan yang mereka tekuni, membaca belum dijadikan suatu kebutuhan.

Pendek kata, rendahnya budaya baca buku masyarakat perlu dilihat sebagai persoalan serius dan segera dicarikan solusinya. Kondisi seperti ini tentu saja bukan menjadi pekerjaan rumah bagi guru semata, melainkan juga menjadi pr kita semua. Butuh perjuangan ekstra keras dalam rangka meningkatkan perkembangan alam perbukuan kita. Satu poin penting yang perlu diupayakan bersama adalah memberikan edukasi yang tepat bagi masyarakat untuk mau membaca, mencintai, dan membeli buku.

Dengan demikian kita masih dapat merayakan Hari Buku Nasional di tahun berikutnya dan terlebih dapat menyelamatkan penulis buku itu sendiri. Selamat Hari Buku Nasional! exmbk

Sumber: rudi.salam@rocketmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: