Oleh: M Arif Romadoni | 17/08/2012

70% Peserta Tak Lulus UKG

SURABAYA – Setelah proses Ujian Kompetensi Guru (UKG) secara online untuk guru SMA, SMP, SD/TK/SLB berakhir pada 10 Agustus lalu, kini pihak Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) menyiapkan pelatiham terhadap guru yang tidak lulus UKG. Setidaknya dari 120 ribu guru yang mengikuti UGK, 70 persen diantaranya akan mengikuti pelatihan.

Di Jatim, dari 33 kabupaten/kota yang gagal melaksanakan UGK terdapat 11 kabuapten/kota. Banyaknya guru yang belum melaksanakan UGK sebanyak 46.350. Sedangkan 115.350 yang berhasil menjalankan UGK. Bila 70 persen guru yang tidak lulus maka setidaknya akan ada 80.745 guru yang akan melaksanakan pelatihan.

Ketua LPMP Jawa Timur, Salamun, mengungkapkan Setelah UKG selesai dilaksanakan, pemerintah akan melanjutkan proses perbaikan kompetensi guru dengan pelatihan dan dibarengi dengan pengukuran kinerja guru. Hal tersebut berdasarkan ketetapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) beberapa saat lalu.

“UKG rampung bulan Oktober, baik dari ujian ulang dari gagalnya operasional koneksi ulang dan untuk guru SMK. Pelaksanaan pelatihan tersebut berlangsung tahun depan,” ungkapnya kepada Surabaya Post saat dikonfirmasi Senin (13/8) pagi tadi.

UKG sendiri merupakan ujian multi-objective, lanjutnya, yang mana akan memetakan kemampuan guru berdasarkan bidang ilmu pengetahuannya. Dari pemetaan tersebut dapat diketahui seberapa nilai kompetensi profesionalitas, juga untuk mengetahui apakah pedagogik dalam pengajaran yang dilakukan berjalan dengan baik atau tidak.

“Melalui UKG, kita ingin mengetahui sumurnya para guru ini ada isinya apa tidak. Itu yang kita uji melalui uji kompetensi profesionalnya. Kalau ada airnya, pompanya jalan apa tidak? Pedagogiknya jalan apa tidak?” lanjutnya.

Pengukuran kinerja bertujuan untuk menjawab pertanyaan apakah dengan sertifikasi yang diberikan kepada guru dapat meningkatkan kinerja mereka atau tidak. Setelah diukur, akan dibedakan solusinya berdasarkan sifatnya. Jika menyangkut disiplin guru, maka akan diberikan pelatihan yang akan dilakukan oleh kepala sekolah. “Dan kalau menyangkut kompetensinya, maka akan dilatih dari dinas, baik di provinsi, maupun secara nasional,” urainya.

Sedangkan bagi guru yang telah lulus UKG, tidak mendapatkan pelatihan lagi. Untuk menghitung kelulusan, akan dihitung dengan standar minimal dan standar deviasinya. Meski kompetensi mereka baik, pengukuran kinerja akan tetap dilakukan. “Penilaian akan tetap berlangsung bagi guru yang lulus. Hal ini untuk meningkatkan kualitas guru tersebut,” terangnya.

Terpisah, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ichwan Sumadi, menganggap pelatihan terhadap guru yang tidak lulus UGK baik juga. Namun ini tidak akan membuat efisiensi pekerjaan mereka. Pasalnya, guru akan semakin terbebani dengan berbagai acara yang harus mereka jalani. “Kalau pelatihan ini ditempatkan di suatu daerah, otomatis mereka akan kembali meninggalkan murid didiknya. Jika sering guru meninggalkan murid didik juga tidak bagus,” jawabnya terkait program tersebut.

Namun ia mengharapkan, baiknya pemerintah jauh-jauh hari merencanakan program yang lebih baik dalam meningkatkan kualitas guru di Indonesia. Namun caranya yang tidak membebani guru maupun peserta didik. Ia sendiri menilai, gagalnya UGK bukan hanya dari kesalahan guru yang mengikuti ujian namun juga karena kurang matangnya pelaksaan UGK itu sendiri. “Sebaiknya ada koreksi diri antara Kemendikbud dengan guru. Karena dua-duanya juga mempunyai kekurangan,” tandasnya. m6

Sumber: Surabaya Post Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: